BAB I
Pendahuluan
A. Latar Belakang
Puasa dalam bahasa
Arab di istilahakan dengan “shaum” atau “shiyam”. Secara
terminology “shaum” atau “shiyam” Itu berarti “al-
imsak”yaitu menahan dari apa saja. Ibnu Mandzur memberikan penjabaran untuk
maksud “menahan diri” yaitu meninggalkan makan, minum,
hubungan suami isti, dan berbicara. Sedangkan puasa secara syar’i adalah “
Menahan diri dari makan, minum, hubungan suami istri dan apa saja yang bisa
membatalkannya, mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari, dengan
mengharap ridha Allah SWT.
Di dalam syariat islam
puasa digolongkan menjadi dua yaiti puasa wajib dan sunnah, puasa wajib merupakan salah
satu dari rukun islam, yaitu puasa Ramadhan, Selain puasa wajib ada juga puasa sunnah
yang diperintahkan Rasullah seperti puasa 6 hari pada bulan syawwal,
puasa pada hari senin dan kamis, puasa ‘arafah,dan Puasa Asyura’ masih banyak
lagi
B. Rumusan
Masalah
Ø
Pengertian puasa sunah
Ø
Apa saja macam-macam puasa sunah
Ø
Apa ketentuan menjalankan puasa sunah
Ø
Apa hikmah dan manfaat puasa
BAB II
PEMBAHASAN
1.
Pengertian Puasa Sunnah
Puasa adalah amalan yang sangat utama. Di antara
ganjaran puasa disebutkan dalam hadits berikut,
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ
يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ
اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ
يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ
عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ. وَلَخُلُوفُ فِيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ
اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ
“Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan
dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali
lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Kecuali amalan puasa. Amalan
puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan
dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa
akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan
kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang
berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi” (HR. Muslim
no. 1151).
Adapun puasa sunnah adalah amalan yang dapat
melengkapi kekurangan amalan wajib. Selain itu pula puasa sunnah dapat
meningkatkan derajat seseorang menjadi wali Allah yang terdepan (as saabiqun al
muqorrobun). Lewat amalan sunnah inilah seseorang akan mudah mendapatkan
cinta Allah. Sebagaimana disebutkan dalam hadits qudsi,
وَمَا يَزَالُ عَبْدِى
يَتَقَرَّبُ إِلَىَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ
كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِى يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِى يُبْصِرُ بِهِ ،
وَيَدَهُ الَّتِى يَبْطُشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِى يَمْشِى بِهَا ، وَإِنْ
سَأَلَنِى لأُعْطِيَنَّهُ ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِى لأُعِيذَنَّهُ
“Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan
amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya,
maka Aku akan memberi petunjuk pada pendengaran yang ia gunakan untuk
mendengar, memberi petunjuk pada penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat,
memberi petunjuk pada tangannya yang ia gunakan untuk memegang, memberi
petunjuk pada kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia memohon sesuatu
kepada-Ku, pasti Aku mengabulkannya dan jika ia memohon perlindungan, pasti Aku
akan melindunginya” (HR. Bukhari no. 2506).[1]
2.
Macam-macam Puasa Sunnah
a.
Puasa Senin Kamis
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
تُعْرَضُ الأَعْمَالُ
يَوْمَ الاِثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ فَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِى وَأَنَا
صَائِمٌ
“Berbagai amalan dihadapkan (pada Allah) pada hari Senin dan
Kamis, maka aku suka jika amalanku dihadapkan sedangkan aku sedang berpuasa.”
(HR. Tirmidzi no. 747. Shahih dilihat dari jalur lainnya).
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau mengatakan,
إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ
-صلى الله عليه وسلم- كَانَ يَتَحَرَّى صِيَامَ الاِثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ.
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa menaruh pilihan
berpuasa pada hari senin dan kamis.” (HR. An Nasai no. 2360 dan Ibnu Majah
no. 1739. Shahih)
b. Puasa
Tiga Hari Setiap Bulan Hijriyah
Dianjurkan berpuasa tiga hari setiap bulannya,
pada hari apa saja.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,
ia berkata,
أَوْصَانِى خَلِيلِى بِثَلاَثٍ لاَ أَدَعُهُنَّ
حَتَّى أَمُوتَ صَوْمِ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ، وَصَلاَةِ الضُّحَى
، وَنَوْمٍ عَلَى وِتْرٍ
“Kekasihku (yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam)
mewasiatkan padaku tiga nasehat yang aku tidak meninggalkannya hingga aku mati:
berpuasa tiga hari setiap bulannya, mengerjakan shalat Dhuha, mengerjakan
shalat witir sebelum tidur.”( HR. Bukhari no. 1178)
Namun, hari yang utama untuk berpuasa adalah pada hari ke-13, 14,
dan 15 dari bulan Hijriyah yang dikenal dengan ayyamul biid. Dari
Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata,
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُفْطِرُ أَيَّامَ الْبِيضِ فِي حَضَرٍ
وَلَا سَفَرٍ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada
ayyamul biidh ketika tidak bepergian maupun ketika bersafar.” (HR. An Nasai
no. 2345. Hasan).
Dari Abu Dzar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda padanya,
يَا أَبَا ذَرٍّ إِذَا
صُمْتَ مِنَ الشَّهْرِ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ فَصُمْ ثَلاَثَ عَشْرَةَ وَأَرْبَعَ
عَشْرَةَ وَخَمْسَ عَشْرَةَ
“Jika engkau ingin berpuasa tiga hari setiap bulannya, maka
berpuasalah pada tanggal 13, 14, dan 15 (dari bulan Hijriyah).” (HR.
Tirmidzi no. 761 dan An Nasai no. 2424. Hasan)
c.
Puasa Nabi Daud a.s
Cara melakukan puasa Daud adalah sehari berpuasa dan sehari tidak.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أحَبُّ الصِّيَامِ إلى
اللهِ صِيَامُ دَاوُدَ، وَأحَبُّ الصَّلاةِ إِلَى اللهِ صَلاةُ دَاوُدَ: كَانَ
يَنَامُ نِصْفَ الليل، وَيَقُومُ ثُلُثَهُ وَيَنَامُ سُدُسَهُ، وَكَانَ يُفْطِرُ
يَوْمًا وَيَصُوْمُ يَوْمًا
“Puasa yang paling disukai oleh Allah adalah puasa Nabi Daud.
Shalat yang paling disukai Allah adalah Shalat Nabi Daud. Beliau biasa tidur
separuh malam, dan bangun pada sepertiganya, dan tidur pada seperenamnya.
Beliau biasa berbuka sehari dan berpuasa sehari.” (HR. Bukhari no. 3420 dan
Muslim no. 1159)[2]
d. Puasa
di Bulan Sya’ban
‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan,
لَمْ يَكُنِ النَّبِىُّ -
صلى الله عليه وسلم - يَصُومُ شَهْرًا أَكْثَرَ مِنْ شَعْبَانَ ، فَإِنَّهُ كَانَ
يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak biasa berpuasa pada
satu bulan yang lebih banyak dari bulan Sya’ban. Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam biasa berpuasa pada bulan Sya’ban seluruhnya.” (HR. Bukhari no. 1970
dan Muslim no. 1156).
Dalam lafazh Muslim, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan,
كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ
كُلَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ إِلاَّ قَلِيلاً.
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada bulan
Sya’ban seluruhnya. Namun beliau berpuasa hanya sedikit hari saja.” (HR.
Muslim no. 1156)
Yang dimaksud di sini adalah berpuasa pada mayoritas harinya
(bukan seluruh harinya)sebagaimana diterangkan oleh Az Zain ibnul Munir.
Para ulama berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak
menyempurnakan berpuasa sebulan penuh selain di bulan Ramadhan agar tidak
disangka puasa selain Ramadhan adalah wajib.[3]
e.
Puasa
Enam Hari di Bulan Syawal
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ
ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari
di bulan Syawal, maka dia seperti berpuasa setahun penuh.” (HR. Muslim no.
1164)
f. Puasa
di Awal Dzulhijah
Dari Ibnu ‘Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda,
«
مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ
الأَيَّامِ ». يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ
الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ « وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ
إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ
».
"Tidak ada satu amal sholeh yang lebih dicintai oleh Allah
melebihi amal sholeh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama
bulan Dzul Hijjah)." Para sahabat bertanya: "Tidak pula jihad di
jalan Allah?" Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: "Tidak
pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan
hartanya namun tidak ada yang kembali satupun." (HR. Abu Daud no.
2438, At Tirmidzi no. 757, Ibnu Majah no. 1727, dan Ahmad no. 1968. Shahih).
Keutamaan sepuluh hari awal Dzulhijah berlaku untuk amalan apa saja, tidak
terbatas pada amalan tertentu, sehingga amalan tersebut bisa shalat, sedekah,
membaca Al Qur’an, dan amalan sholih lainnya.[9] Di antara amalan yang
dianjurkan di awal Dzulhijah adalah amalan puasa.
Dari Hunaidah bin Kholid, dari istrinya, beberapa istri Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam mengatakan,
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ
-صلى الله عليه وسلم- يَصُومُ تِسْعَ ذِى الْحِجَّةِ وَيَوْمَ عَاشُورَاءَ
وَثَلاَثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ أَوَّلَ اثْنَيْنِ مِنَ الشَّهْرِ
وَالْخَمِيسَ.
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa
berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijah, pada hari ‘Asyura’ (10 Muharram),
berpuasa tiga hari setiap bulannya...” (HR. Abu Daud no. 2437. Shahih).
g. Puasa
‘Arafah
Puasa ‘Arofah ini dilaksanakan pada tanggal 9 Dzulhijjah. Abu
Qotadah Al Anshoriy berkata,
صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ
أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ
وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ
الَّتِى قَبْلَهُ
“Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya mengenai keutamaan
puasa ‘Arofah? Beliau menjawab, ”Puasa ‘Arofah akan menghapus dosa setahun yang
lalu dan setahun yang akan datang.” Beliau juga ditanya mengenai keistimewaan
puasa ’Asyura? Beliau menjawab, ”Puasa ’Asyura akan menghapus dosa setahun yang
lalu” (HR. Muslim no. 1162). Sedangkan untuk orang yang berhaji tidak
dianjurkan melaksanakan puasa ‘Arofah. Dari Ibnu ‘Abbas, beliau berkata,
أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- أَفْطَرَ
بِعَرَفَةَ وَأَرْسَلَتْ إِلَيْهِ أُمُّ الْفَضْلِ بِلَبَنٍ فَشَرِبَ
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berpuasa ketika di
Arofah. Ketika itu beliau disuguhkan minuman susu, beliau pun meminumnya.”
(HR. Tirmidzi no. 750. Hasan shahih).
h.
Puasa ‘Asyura
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَفْضَلُ الصِّيَامِ
بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ
الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ
“Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa
pada bulan Allah - Muharram. Sementara shalat yang paling utama setelah shalat
wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim no. 1163). An Nawawi -rahimahullah-
menjelaskan, “Hadits ini merupakan penegasan bahwa sebaik-baik bulan untuk berpuasa
adalah pada bulan Muharram”. [4]
Keutamaan puasa ‘Asyura sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu
Qotadah di atas. Puasa ‘Asyura dilaksanakan pada tanggal 10 Muharram. Namun
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertekad di akhir
umurnya untuk melaksanakan puasa ‘Asyura tidak bersendirian, namun diikutsertakan
dengan puasa pada hari sebelumnya (9 Muharram). Tujuannya adalah untuk
menyelisihi puasa ‘Asyura yang dilakukan oleh Ahlul Kitab.
3.
Ketentuan dalam Melakukan Puasa Sunnah
Pertama: Boleh berniat puasa sunnah setelah terbit
fajar jika belum makan, minum dan selama tidak melakukan hal-hal yang
membatalkan puasa. Berbeda dengan puasa wajib maka niatnya harus dilakukan
sebelum fajar.
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata,
دَخَلَ عَلَىَّ
النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- ذَاتَ يَوْمٍ فَقَالَ « هَلْ عِنْدَكُمْ شَىْءٌ
». فَقُلْنَا لاَ. قَالَ « فَإِنِّى إِذًا صَائِمٌ ». ثُمَّ أَتَانَا يَوْمًا
آخَرَ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ أُهْدِىَ لَنَا حَيْسٌ. فَقَالَ « أَرِينِيهِ
فَلَقَدْ أَصْبَحْتُ صَائِمًا ». فَأَكَلَ.
“Pada suatu hari, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menemuiku
dan bertanya, "Apakah kamu mempunyai makanan?" Kami menjawab,
"Tidak ada." Beliau berkata, "Kalau begitu, saya akan
berpuasa." Kemudian beliau datang lagi pada hari yang lain dan kami
berkata, "Wahai Rasulullah, kita telah diberi hadiah berupa Hais (makanan
yang terbuat dari kura, samin dan keju)." Maka beliau pun berkata,
"Bawalah kemari, sesungguhnya dari tadi pagi tadi aku berpuasa."
(HR. Muslim no. 1154). An Nawawi memberi judul dalam Shahih Muslim,
“Bab: Bolehnya melakukan puasa sunnah dengan niat di siang hari sebelum
waktu zawal (bergesernya matahari ke barat) dan bolehnya membatalkan puasa
sunnah meskipun tanpa udzur. ”
Kedua: Boleh menyempurnakan atau membatalkan puasa
sunnah. Dalilnya adalah hadits ‘Aisyah diatas. Puasa sunnah merupakan pilihan
bagi seseorang ketika ia ingin memulainya, begitu pula ketika ia ingin
meneruskan puasanya. Inilah pendapat dari sekelompok sahabat, pendapat Imam
Ahmad, Ishaq, dan selainnya. Akan tetapi mereka semua, termasuk juga Imam Asy
Syafi’i bersepakat bahwa disunnahkan untuk tetap menyempurnakan puasa tersebut.[5]
Ketiga: Seorang istri tidak boleh berpuasa sunnah
sedangkan suaminya bersamanya kecuali dengan seizin suaminya. Dari Abu
Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ تَصُومُ الْمَرْأَةُ
وَبَعْلُهَا شَاهِدٌ إِلاَّ بِإِذْنِهِ
“Janganlah seorang wanita berpuasa sedangkan suaminya ada
kecuali dengan seizinnya.” (HR. Bukhari no. 5192 dan Muslim no. 1026)
An Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Yang
dimaksudkan dalam hadits tersebut adalah puasa sunnah yang tidak terikat dengan
waktu tertentu. Larangan yang dimaksudkan dalam hadits di atas adalah larangan
haram, sebagaimana ditegaskan oleh para ulama Syafi’iyah. Sebab pengharaman
tersebut karena suami memiliki hak untuk bersenang-senang dengan istrinya
setiap harinya. Hak suami ini wajib ditunaikan dengan segera oleh istri. Dan
tidak bisa hak tersebut terhalang dipenuhi gara-gara si istri melakukan puasa
sunnah atau puasa wajib yang sebenarnya bisa diakhirkan.”[6] Beliau rahimahullahmenjelaskan
pula, “Adapun jika si suami bersafar, maka si istri boleh berpuasa. Karena
ketika suami tidak ada di sisi istri, ia tidak mungkin bisa bersenang-senang
dengannya.”
4. Hikmah
Puasa
Puasa
adalah ibadah yang sarat dengan makna. Selain para fuqaha mengungkapkan begitu
luasnya hikmah yang terkandung di dalamnya,para ahli kesehatan pun tak
ketinggalan meneliti dan membeberkan manfaat ibadah puasa. Padahal, ibadah
puasa adalah ibadah yang cukup sederhana, yaitu menahan diri dari makan dan
minum serta hal-hal yang membatalkannya dari pagi hingga petang. Tapi, hikmah
ibadah ini selalu berkembang. Apa-apa saja hikmah yang terkandung sampai hari
ini adalah keterbatasan akal manusia untuk mengetahuinnya. Tentu sajahakikat
yang sebenarnya lebih luas dari itu. [7]
Beberapa pakar, diantaranya Syekh
Ali Ahmad al-Jarjawi yang merupakan salah satu jajaran ulama al-Azhar Kairo
mengungkapkannya dalam buku Hikmatut Tasyrik wa Falsafatuhu. Di dalam
buku tersebujt dikatakan bahwa ibadah puasa yang datang pada bulan Sya’ban
tahun kedua hijriyah itu mengandung beberapa hikmah :
1.
Ibadah adalah sebuah
nikmat yang Allah berikan kepada hamba-Nya agar mereka dapat selalu
berinteraksi secara aktif kepada Tuhannya. Andaikan puasa itu bukan sebuah
ibadah, maka bisa jadi perbuatan menahan lapar dan dahaga tersebut tidak begitu
berarti. Dengan dijadikannya puasa sebagai ibadah, maka banyak sekali manfaat
yang bertaburan dari ibadah tersebut.
2.
Puasa adalah alat untuk
mengetes ketaatan dan amanah seorang muslim. Sebab, puasa adalah ibadah yang
khusus dimana yang mengetahuinnya hanya orang yang berpuasa dan Allah semata.
3.
Ibadah puasa dapat
melepaskan diri manusia dari nafsu kebinatangan. Sebab, binatang pekerjaannya
hanyalah makan dan minum saja untuk mempertahankan hidupnya.
4.
Sesungguhnya para
dokter menyatakan bahwa manusia akan mampu makan dengan rakus dan tanpa batas.
Karena, hal ituy akan menjadikan penyakit yang berbahaya pada pencernaan.
Sebagian ahli hikmah mengatakan, “barang siapa makan banyak, ia akan minum
banyak. Jika demikian, ia akan tidur banyak, sehingga menjadi sia-sialah
hidupnya”.
5.
Puasa dapat melemahkan
nafsu syahwat. Nafsu syahwat juga merupakan kesamaan antara manusia dan hewan.
Jika seseorang tidak mampu menikah dan takut terjerumus ke lembah zina, maka
disarankan berpuasa.
6.
Jika manusia dalam
keadaan puasa ia akan merasakan panasnya lapar, sehingga membuahkan rasa kasih
saying kepada fakir miskin yang mendapati pangan yang bisa menutupi lapar dan
dahaganya. Kalau kita bisa berbuka di sore hari karena ada makanan, mereka kaum
fakir miskin akan berbuka dengan apa?.[8]
BAB III
PENUTUP
Puasa sunnah adalah amalan yang dapat melengkapi
kekurangan amalan wajib. Selain itu pula puasa sunnah dapat meningkatkan
derajat seseorang menjadi wali Allah yang terdepan (as saabiqun al muqorrobun).
Lewat amalan sunnah inilah seseorang akan mudah mendapatkan cinta Allah.
Boleh berniat puasa sunnah setelah terbit fajar jika
belum makan, minum dan selama tidak melakukan hal-hal yang membatalkan puasa.
Berbeda dengan puasa wajib maka niatnya harus dilakukan sebelum fajar.
Puasa sunnah merupakan pilihan bagi seseorang ketika
ia ingin memulainya, begitu pula ketika ia ingin meneruskan puasanya. Inilah
pendapat dari sekelompok sahabat, pendapat Imam Ahmad, Ishaq, dan
selainnya.Akan tetapi mereka semua, termasuk juga Imam Asy Syafi’i bersepakat
bahwa disunnahkan untuk tetap menyempurnakan puasa tersebut.
DAFTAR
PUSTAKA
Farid,Miftah. 2007. Puasa,
Ibadah Kaya Makna. Jakarta: Gema
Insani.
Basri, Helmi. 2010. Fiqih
Ibadah. Pekanbaru: Suska Press.
An Nawawi, Yahya bin Syarf. Al Minhaj Syarh Shahih Muslim. Dar Ihya’ At Turots.
Sabiq, Sayyid. 2007. Fikih Sunnah. Bandung: Alma’arif.